Jakarta –┬áStunting masih menjadi momok yang mengerikan di Indonesia. Hal itu berkaitan erat dengan penyakit infeksi dan ketidakcukupan gizi anak. Hal itu bertolakbelakangan dengan visi Indonesia Emas yang diproyeksikan pada tahun 2045 mendatang.

Oleh karena itu, kualitas SDM mesti ditentukan sejak usia dini. Stunting pada anak balita di Indonesia berada di peringkat ketiga tertinggi di Asia Tenggara. Human Capital Index atau HCI 2020 mencatat bahwa Indonesia masih di bawah rata-rata dunia: berada di peringkat 87 dari 157 negara dan peringkat 6 di Asia Tenggara.

Menyikapi hal tersebut, Southeast Asian ministers of Education Organization Regional Center for Food and Nutrition atau SEAMEO-RECFON mengembangkan pedoman gizi seimbang berbasis pangan lokal atau PGS-PL.

Salah satu anggota Tim Penyusun Rekomendasi Kebijakan, Umi Fahmida, mengatakan bahwa kemajuan Indonesia harus dimotori oleh pembangunan sumber daya manusia (SDM) dalam upaya menyejahterakan masyarakat. Beberapa target yang harus dibenahi terkait terkait SDM antara lain pengurangan angka kematian ibu dan stunting, penyediaan pangan, dan peningkatan mutu SDM siap kerja.

Dalam temuannya, Umi mencatat bahwa terdapat 37 kabupaten/kota di Indonesia memiliki masalah stunting. Oleh karena itu, dibutuhkan nutrisi berlebih, tetapi dengan mengoptimalkan pangan lokal. Dia menemukan, ada permasalahan perolehan gizi yang tidak optimal di tiap daerah, padahal di daerah-daerah tersebut terdapat sumber gizi yang berasal dari sumber pangan masing-masing.

Umi mengatakan, PGS-PL dapat dijadikan alternatif acuan dalam perencanaan sistem pangan di Indonesia dengan melibatkan instansi terkait termasuk Kementerian Pertanian, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Agama, dan Kementerian Dalam Negeri.

Selain itu, juga untuk menyusun forum koordinasi dan komunikasi antara pemerintah daerah dengan institusi akademik sebagai pusat pelatihan implementasi dan evaluasi di daerah terhadap PGS triple yang telah disusun.

Kerjasama tersebut diharapkan dapat menelurkan program dan aktivitas untuk meningkatkan kapasitas dan mendampingi pemerintah dan tenaga kesehatan daerah dalam pengembangan implementasi dan evaluasi PGS-PL untuk pencegahan dan penurunan.

“Tujuannya adalah mengoptimalkan upaya pemerintah dalam mengenali indikator ketahanan pangan dan status gizi di setiap kabupaten kota dan mendorong produksi pangan yang berfokus pada protein hewani dan sayuran,” ujar Umi pada webinar yang digelar SEAMEO-RECFON, Rabu (24/2).

Rekomendasi kebijakan ini diharapkan juga dapat membantu optimalisasi pemerataan logistik dan distribusi bahan makanan yang bergizi khususnya selama dan pasca pandemi Covid-19.

Sumber Berita https://www.gatra.com/detail/news/504568/kesehatan/stunting-tinggi-seameo-recfon-rilis-rekomendasi-kebijakan